BERMAIN DI TAMAN KANAK-KANAK

ayunan2-situs.jpgOleh Tias Tatanka

nak-anak kita sering malas pergi ke sekolah. Kenapa? Kadang kita sebagai orang tua tergesa-gesa mencap anak kita bodoh atau pemalu. Padahal, selidiki dulu keinginan anak kita. Apakah sekolah tempat dia menyenangkan? Kalau anak kita yang di SD sering mengeluh, “Banyak pelerjaan rumahnya!”

SEDIH
Tidak sedihkah kita ketika melihat buah hati kita melihat buah hati kita yang masih berusia di bawah enam tahun diajri membaca, menulis, dan menghitung, bahkan membawa pekerjaan rumah padahal masih   di taman kanak-kanak (TK) atau taman bermain? Menurut Al-Ghazali,  “Anak-anak kita sebaiknya dibiarkan mengenal lingkungan dan mengenal dirinya sendiri dengan pola bermain.”

Di koran Warta Kota (Kamis, 15 Februari 2007) ditulis, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Depdiknas, Ace Suryadi, mengatakan, “Biarkan kecerdasan anak-anak berkembangan dalam berbagai interaksi dengan melihat, mengamati, berbicara, dan bertanya.” Ia bilang anak yang kecerdasannya berkembang karena mengenal emosi dan likungannya akan dengan mudah belajar membaca, menulis dan berhitung. Untuk belajar membaca dan menulis paling hanya butuh satu minggu. Tapi, bila anak-anak itu dipaksa belajar, ketika masuk usia belajar, anak-anak itu sudah mengalami kejenuhan. “Jangan dulu sistem pikir anak dipompa. Yang harus dilatih itu sistem emosi, agar anak bisa ceria, terampil dan cekatan,” katanya lagi.

Niatan untuk mengembalikan fungsi TK sebagai tempat bermain masih ditentang oleh para orang tua. Mereka sering tidak sabaran. “Masak anak saya belum bisa baca-nulis? Anak tetangga saya udah bisa!” Begitulah.

emua memang butuh waktu, agar orang tua memahami, bahwa usia 1 hingga 6 tahun adalah usia emas, yang mesti dirawat dan dijaga. PLS (Pendidikan Luar Sekolah) tidak tinggal diam. Untuk memaksimalkan pendidikan anak usia dini (PAUD), PLS ingin mengembalikan fungsi TK atau taman bermain sebaga tempat bermain, yaitu sebagai tempat untuk mendidik anak menjadi sehat, cerdas, ceria dan berakhlak. Program PAUD terlaksana berkat kerjasama Departemen Pendidikan Nasional dengan Departemen Sosial, Departemen Kesehatan dan Departemen Agama. PAUD juga membentuk Forum PAUD yang anggotanya antara praktisi, pengamat, dan lembaga yang peduli pada pendidikan anak usia dini. Forum PAUD adalah wadah independent, professional, dan terbuka terhadap upaya pengasuhan, perawatan, dan pendidikan anak usia dini.

Warta Kota menulis lagi, PAUD juga mengembangkan jaringan kemitraan dengan menyebarluaskan informasi dan teknologi yang tepat bagi perkembangan anak usia dini, serta mengembangkan potensi yang dimiliki oleh taman berman atau TK. “Kami berharap, dengan adanya forum ini anak-anak menjadi sehat, serdas, ceria, dan memiliki sopan santun,” kata ketua Forum PAUD, Damanhudin.

SEDERHANA DAN BACA
Di Jendral Kecil dan beberapa TK yang mengusung “kecerdasan majemuk” di Banten, mulai mengembangkan hal ini. Kata Tias Tatanka, Kepala Sekolah, “Dengan mainan sederhana, kami berusaha membahagiakan anak-anak.”Ya, tempat bermain dan TK bukan melulu dipenuhi dengan permainan yang mahal, tapi yang penting dapat merangsang kreativitas anak. Misalnya, anak-anak dibiarkan bermain pasir atau bermain balok-balok kayu.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini Depdiknas, Gautama, mengatakan, anak usia dini juga harus mulai diarahkan mencintai bacaan. Hal ini karena perkembangan kapasitas intelektual seseorang mencapai 50 persen saat anak udia 4 tahun. Kemudian meningkat menjadi 80 persen pada usia 8 tahun dan mencapai 100 persen pada usia 18 tahun.

Beberapa langkah pengembangan minat baca di antaranya membiasakan anak sejak dini dekat dengan buku-buku, koran, majalah, buku cergam, buku dongeng, buku cerita, kamus dan bacaan lainnya. Biasakan pula anak mengenal nama-nama benda/barang yang ada disekitarnya melalui tulisan dan memberi nomor barang-barang miliknya. Bagus juga bila anak mengenal foto-foto keluarga, tooh-tokoh agama, tokoh-tokoh nasional dan internasional maupun gambar-gambar yang disertai dengan tulisan dibawahnya. (*)

*) Foto: Emira, Riri sedang maen ayunan di TK Jendral Kecil (foto Fery Benggala)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: