MULTIPLE INTELLIGENCES DI JENDRAL KECIL

Money can buy everything, pepatah menyebalkan yang hingga kini terus teruji keampuhannya. Dengan uang kita bisa jadi raja. Celakanya, orang-orang menghamba pada uang, sehingga tanpa uang kreativitas jadi macet. Pola konsumtif dan hedonis membelenggu mereka, sehingga segala cara ditempuh asal uang didapat. Tak peduli halal atau haram.

KREATIVITAS
Kami di Rumah Dunia, setiap saat selalu saling mengingatkan, bahwa uang bukanlah segalanya. Tapi, kreativitaslah yang seharusnya nanti jadi satu cara dalam menghasilkan uang. Terbukti pelan tapi pasti, di Kelas Menulis Rumah Dunia, para pesertanya sudah bisa mendapatkan uang dari hasil kreativitas mereka; berupa laporan jurnalistik, karya fiksi (cerpen, puisi, dan novel). Berbagai lomba pun kami capai, Yuanita Utami, pelajar SMAN 1 Cilegon, yang aktif di Forum Lingkar Pena dan Rumah Dunia, menyabet UNICEF Award for Indonesian Young Writer 2006. Prestasi serupa pada 2004 diraih Endang Rukmana – kini mahasiswa UI Fakulatas Sastra Sejarah. Dan uang bagi mereka, hanya faktor pelengkap untuk menghargai prestasi mereka. 

Berpijak pada realitas tersebut, Rumah Dunia memang tidak pernah bisa melepaskan diri dari belitan uang, karena seluruh kegiatan di Rumah Dunia tidak memungut biaya alias gratis. Setiap bulan kami membutuhkan dana operasional sekitar Rp. 3.000.000,- Secara kelembagaan, setiap bulan Radar Banten, Suhud Sentra Utama, Gagas Media, Dar! Mizan, dan Dindik Banten menyisihkan zakat mereka tanpa perlu kami sodorkan proposal. Secara perseorangan Prof. Yoyo Mulyona, Abdul Muhyi, dan Fahri Asiza. Dana yang terkumpul sekitar Rp. 1.250.000,- Itu belum mencukupi untuk biaya operasional kegiatan reguler Rumah Dunia. Di sela-sela itu selalu ada yang berinfak-sedekah; Inka B Laras, BNI Tapenas, Gramedia, Yudis J dari Yasan Tunas Cendekia, Yati dari Tomkins, anak-anak MAN Insan Cendekia Serpong, atau dari royalti novel-novel kami. Tapi bagi kami itu bukan masalah, karena with or without the money, the show must go on! 

SUBSIDI SILANGKadang kami malu, karena walaupun tanpa proposal, tetap saja kami harus mendatangi mereka untuk mengambil zakat atau infak sedekahnya. Kami merasa sudah jadi “pengemis perlente”. Dalam sebuah hadist disebutkan, tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Kami sudah jadi “tangan di bawah”. Itu sangat membebani. Saya membatin, “Ayo, kreatif, kreatif! Gali potensi dalam diri!” 

Saya jadi teringat sebuah pengalaman di Bangkok, ketika seorang Indonesia asal
Bali hendak membantu saya, tapi saya tolak. Orang itu mengingatkan saya, “Kamu harus bijaksana dengan memberi kesempatan pada orang lain untuk juga bisa berbuat kebaikan.” Saya terperangah dan malu saat itu. 

Lalu terbersitlah ide, kenapa kita tidak mengumpulkan banyak orang untuk berbuat kebaikan di Rumah Dunia atau di tempat-tempat lain. Kerja belum selesai. Rumah Dunia adalah ladang ibadah bagi kita semua. Allah berfirman, ”Janganlah kita mewariskan generasi yang lemah.” Itulah yang menyebabkan kenapa kami terus memutar otak, agar semua kegiatan di Rumah Dunia tetap bisa gratis. Cara yang paling mudah adalah dengan subsidi silang. Saya melihat peluang itu, karena di pagi hari hingga pukul 13.00 WIB, di Rumah Dunia tidak ada kegiatan. 

Kami bersepakat memaksimalkan potensi pagi hari itu dengan membuat tempat klab bermain dan taman kanak-kanak bernama ”Jendral Kecil”. Maka kami membuat Yayasan Pena Dunia (YPD), bergerak di pendidikan dan sosial. Divisi pendidikan akan kami jadikan ”mesin uang”; yaitu membuat lembaga pendidikan setingkat playgroup,
TK, SD, hingga SMP. Kelak ke tingkat SMA hingga Pergruan Tinggi. Why not? Kompetensinya adalah seni. Target sasaran yang kami bidik kelas menengah dan atas. Lewat merekalah nanti kami bisa mensubsidi silang ke kegiatan sosial di Rumah Dunia. 

TEMATIK
Metode pembelajaran yang digunakan di Taman Kanak-kanak (TK) dan Klab Bermain (KB) “Jendral Kecil” merupakan penerapan dan aplikasi dari teori Multiple Intelligence yang dikembangkan Howard Gardner, bahwa inteligensi manusia memiliki tujuh dimensi yang semi-otonom, yaitu linguistik, musik, matematik-logis, visual spasial, kinestetik fisik, sosial interpersonal dan intrapersonal. Masing-masing dimensi itu merupakan kompetensi yang berdiri sendiri dan tidak hanya terbatas pada intelektualitas semata. Juga accelerated learning Dave Meir, dengan konsep belajar dengan mengerjakan pekerjaan itu sendiri. 

Untuk Klab Bermain ”Jendral Kecil” dengan batasan usia 2-4 tahun, diterapkan satu tema untuk tiga hari pertemuan secara berturut-turut, bukan diselang satu hari sebagaimana kelompok bermain atau playgroup lain. Ini kami maksudkan agar selama tiga hari tersebut anak dapat menemukan hal-hal baru di sekitarnya dan mengeksplorasi kemampuan diri tanpa jeda pertemuan, sehingga pelajaran tersebut tidak mudah dilupakan oleh anak. Hari-hari lain di luar jam belajar diharapkan anak-anak tetap mendapat pembelajaran positif dari rumah dan orang tua. Bagaimana pun kami tidak bisa mencabut peran rumah dan orang tua (khususnya ibu) sebagai ”sekolah” pertama bagi anak. Sedangkan untuk TK, yang dibagi dalam dua kelas, A (4-5 tahun) dan B (5-6 tahun), jam belajar diterapkan
lima hari dalam seminggu,; Senin – Jumat, dengan konsep sama, yaitu satu tema dalam satu pekan. 
Ada tiga hal utama yang diterapkan di Jendral Kecil, yaitu berdoa, bernyanyi dan bermain. Berdoa, sebagai katup asupan moral, akhlak, adab sopan-santun dan budi pekerti. Bernyanyi mengajarkan anak untuk dapat mengungkapkan perasaan dan pikirannya dalam suasana rileks. Bermain memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi dan bertenggang-rasa terhadap sesama. Tiga hal ini dirangkai sebagai simulasi anak dalam bersikap dan berperilaku. Untuk memantau perkembangan anak, Jendral Kecil menyediakan konseling psikologis yang sudah termasuk dalam kegiatan belajar-mengajar. Sedangkan point tambahannya adalah kreativitas, kunjungan keluar areal Jendral Kecil dan pertunjukan seni. Menu TK masih ditambah lagi dengan sains dasar, pengenalan film dan pendalaman Agama Islam. 

Kelak, dari total penghasilan, 25% akan kami subsidikan untuk kegiatan sosial. Rumah Dunia adalah bagian dari YPD. Target biaa operasional Rumah Dunia sebesar Rp. 3.000.000,-/bulan, insya Allah, akan terpenuhi. Itu artinya, kami tidak perlu pusing lagi memikirkan dana kegiatan. Bahkan setiap bulan, kami bisa mengundang kantung-kantung kesenian yang ada di Banten untuk manggung di Rumah Dunia secara bergiliran dengan subsidi Rp. 1.000.000,- untuk biaya produksi. (Gola Gong, Pendiri Rumah Dunia dan Ketua Yayasan Pena Dunia) 

*) Tulisan ini dimuat di Salam Rumah Dunia – Radar Banten edisi 11 Mei 2006 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: